|

BAGIAN 5
MACAM-MACAM TAUHID
Tauhid adalah
mengesakan Allah dengan beribadah kepadaNya semata. Ibadah merupakan
tujuan penciptaan alam semesta ini. Allah berfirman,
"Dan Aku (Allah)
tidah menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahKu."
(Adz-Dzaariyaat: 56)
Maksudnya, agar
manusia dan jin mengesakan Allah dalam beribadah dan mengkhususkan
kepadaNya dalam berdo'a.
Tauhid berdasarkan
Al-Qur'anul Karim ada tiga macam:
-
TAUHID RUBUBIYAH
Yaitu
pengakuan bahwa sesungguhnya Allah adalah Tuhan dan Maha Pencipta.
Orang-orang kafir pun mengakui macam tauhid ini. Tetapi pengakuan
tersebut tidak menjadikan mereka tergolong sebagai orang Islam. Allah
berfirman,
-
"Dan sungguh, jika
Kamu bertanya hepada mereka, 'Siapakah yang menciptakan mereka', niscaya
mereka menjawab,'Allah'." (Az-Zukhruf: 87)
Berbeda dengan orang-orang komunis, mereka mengingkari ke-beradaan Tuhan.
Dengan demikian, mereka lebih kufur daripada orang-orang kafir jahiliyah.
-
TAUHID ULUHIYAH
Yaitu
mengesakan Allah dengan melakukan berbagai macam ibadah yang
disyari'atkan. Seperti berdo'a, memohon pertolongan kepada Allah, thawaf,
menyembelih binatang kurban, bernadzar dan berbagai ibadah lainnya.
Macam tauhid inilah yang diingkari oleh orang-orang kafir. Dan ia pula
yang menjadi sebab perseteruan dan pertentangan antara umat-umat
terdahulu dengan para rasul mereka, sejak Nabi Nuh alihissalam hingga
diutusnya Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wa Salam.
Dalam banyak suratnya, Al-Qur'anul Karim sering memberikan anjuran soal
tauhid uluhiyah ini. Di antaranya, agar setiap muslim berdo'a dan
meminta hajat khusus kepada Allah semata.
Dalam surat Al-Fatihah misalnya, Allah berfirman,
"Hanya Kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah Kami
memohon pertolongan." (Al-Fatihah: 5)
Maksudnya, khusus kepadaMu (ya Allah) kami beribadah, hanya kepadaMu
semata kami berdo'a dan kami sama sekali tidak memohon pertolongan
kepada selainMu.
Tauhid uluhiyah ini mencakup masalah berdo'a semata-mata hanya kepada
Allah, mengambil hukum dari Al-Qur'an, dan tunduk berhukum kepada
syari'at Allah. Semua itu terangkum dalam firman Allah,
"Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain
Aku maka sembahlah Aku." (Thaha: 14)
-
TAUHID
ASMA' WA SHIFAT
Yaitu beriman terhadap segala apa yang terkandung dalam Al-Qur'anul
Karim dan hadits shahih tentang sifat-sifat Allah yang berasal dari
penyifatan Allah atas DzatNya atau penyifatan Rasulullah Shalallahu
Alaihi Wa Salam.
Beriman kepada sifat-sifat Allah tersebut harus secara benar, tanpa
ta'wil (penafsiran), tahrif (penyimpangan), takyif (visualisasi,
penggambaran), ta'thil (pembatalan, penafian), tamtsil (penyerupaan),
tafwidh (penyerahan, seperti yang.banyak dipahami oleh manusia) .
Misalnya tentang sifat al-istiwa ' (bersemayam di atas), an-nuzul (turun),
al-yad (tangan), al-maji' (kedatangan) dan sifat-sifat lainnya, kita
menerangkan semua sifat-sifat itu sesuai dengan keterangan ulama salaf.
Al-istiwa' misalnya, menurut keterangan para tabi'in sebagaimana yang
ada dalam Shahih Bukhari berarti al-'uluw wal irtifa' (tinggi dan berada
di atas) sesuai dengan kebesaran dan keagungan Allah Shalallahu Alaihi
Wa Salam . Allah berfirman,
"Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah Yang Maha
Mendengar lagi Maha Melihat." (Asy-Syuura: 11)
Maksud beriman kepada sifat-sifat Allah secara benar adalah dengan tanpa
hal-hal berikut ini:
-
Tahrif (penyimpangan):
Memalingkan dan menyimpangkan zhahir-nya (makna yang jelas tertangkap)
ayat dan hadits-hadits shahih pada makna lain yang batil dan salah.
Seperti istawa (bersema-yam di tempat yang tinggi) diartikan istaula (menguasai).
-
Ta'thil (pembatalan,
penafian): Mengingkari sifat-sifat Allah dan menafikannya. Seperti
Allah berada di atas langit, sebagian ke-lompok yang sesat mengatakan
bahwa Allah berada di setiap tempat.
-
Takyif (visualisasi,
penggambaran): Menvisualisasikan sifat-sifat Allah. Misalnya dengan
menggambarkan bahwa bersemayamnya Allah di atas 'Arsy itu begini dan
begini. Bersemayamnya Allah di atas 'Arsy tidak serupa dengan
bersemayamnya para makhluk, dan tak seorang pun yang mengetahui
gambarannya kecuali Allah semata.
-
Tamtsil (penyerupaan):
Menyerupakan sifat-sifat Allah de-ngan sifat-sifat makhlukNya. Karena
itu kita tidak boleh mengatakan, "Allah turun ke langit, sebagaimana
turun kami ini". Hadits tentang nuzul-nya Allah (turunnya Allah) ada
dalam riwayat Imam Muslim.
Sebagian orang menisbatkan tasybih (penyerupaan) nuzul ini kepada
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Ini adalah bohong besar. Kami tidak
menemukan keterangan tersebut dalam kitab-kitab beliau, justru
sebaliknya, yang kami temukan adalah pendapat beliau yang mena-fikan
tamtsil dan tasybih.
-
Tafwidh (penyerahan):
Menurut ulama salaf, tafwidh hanya pada al-kaif (hal, keadaan) tidak
pada maknanya. Al-Istiwa' misalnya berarti al-'uluw (ketinggian), yang
tak seorang pun mengetahui bagai-mana dan seberapa ketinggian tersebut
kecuali hanya Allah.
-
Tafwidh (penyerahan):
Menurut Mufawwidhah (orang-orang yang menganut paham tafwidh) adalah
dalam masalah keadaan dan makna secara bersamaan. Pendapat ini
bertentangan dengan apa yang diterangkan oleh ulama salaf seperti Ummu
Salamah x,
Rabi'ah guru besar Imam Malik dan Imam Malik sendiri. Mereka semua se-pendapat
bahwa, "Istiwa' (bersemayam di atas) itu jelas pengertian-nya,
bagaimana cara/keadaannya itu tidak diketahui, iman kepadanya adalah
wajib dan bertanya tentangnya adalah bid'ah."
Maksudnya bertanya
tentang bagaimana cara/keadaan istiwa'. Karena sang penanya bertanya
kepada imam Malik, "Bagaimana Tuhan kita bersemayam?" Lalu Imam Malik
menjawab bahwa bertanya tentangnya adalah bid'ah (tentang cara/keadaan
bersemayam). Juga karena Imam Malik berlihat kepada si penanya, "Al-Istiwa'
(bersemayam di atas) itu jelas pengertiannya, bagaimana kemudian dia
berkata, 'Bertanya tentangnya adalah bid'ah? Ini tentu tidak!" %
[ SELANJUTNYA ]
SUMBER
Website “Yayasan Al-Sofwa”
Jl. Raya Lenteng Agung Barat, No.35 Jagakarsa, Jakarta - Selatan (12610)
Telpon: (021)-788363-27 , Fax:(021)-788363-26
www.alsofwah.or.id ; E-mail: info@alsofwah.or.id
|