Tanda-Tanda Sakit Hati Dan Mengembalikannya
Agar Sehat Kembali Serta Cara Mengetahui Orang Lain Dan Aib Dirinya
Oleh: Ibnu Qudamah
Setiap anggota badan
manusia diperuntukkan untuk tugas yang khusus. Adapun tanda sakitnya ialah
ketidakmampuannya melaksanakan tugas itu, atau tugas itu bisa dilaksanakan
dalam keadaan kacau. Tangan yang sakit terlihat dari ketidakmampuannya
memegang. Mata yang sakit terlihat dari ketidakmampuannya melihat. Hati
yang sakit terlihat dari ketidakmampuannya melaksanakan tugas khusus yang
karenanya ia diciptakan, dan beribadah kepada-Nya sertaIyaitu
ilmu, hikmah, ma’rifat, mencintai Allah mementingkan semua ini daripada
setiap bisikan nafsu.
Orang yang mengetahui
, seakan-akan dia tidakI
segala sesuatu, tetapi tidak
mengetahui Allah mengetahui sesuatu pun. Tanda ma’rifat adalah cinta.
Siapa yang mengetahui tentu mencintai-Nya. Adapun tanda cinta adalah
tidak mementingkanI
Allah . Siapa yangI
sesuatu dari sekian banyak hal-hal
yang dicintainya daripada Allah ,I
lebih mementingkan sesuatu yang
dicintainya daripada cintanya kepada Allah berarti hatinya sakit,
sebagaimana perut yang yang lebih suka memakan tanah daripada roti, maka
perutnya tidak beres alias sakit.
Penyakit hati ini tersembunyi. Boleh jadi pemiliknya tidak tahu, karena
itu dia mengabaikannya. Kalau pun tahu, mungkin dia tidak sabar menanggung
pahitnya obat, karena obatnya adalah menentang nafsu. Kalaupun dia sabar,
belum tentu dia mendapatkan dokter yang bisa mengobatinya. Dokter di sini
adalah para ulama. Sementara penyakit pun sudah menjangkiti mereka. Dokter
yang sakit jarang yang mau mengobati orang lain yang sakit, sehingga
penyakit menjadi menyebar kemana-mana dan ilmu pun hilang, obat hati dan
penyakit hati sama-sama dibiarkan, manusia hanya sekedar melakukan
ibadah-ibadah zhahir, sedangkan di dalam batinnya hanya sekedar tradisi.
Inilah yang disebut tanda sumber penyakit.
Untuk mengetahui
keadaan agar segar kembali setelah berusaha melakukan pengobatan ialah
dengan melihat jenis penyakitnya. Pengobatan penyakit kikir ialah dengan
mengeluarkan harta, tapi tidak perlu berlebih-lebihan dan boros. Penyakit
lain dengan pengobatannya sendiri-sendiri, seperti panas dengan dingin
agar tidak semakin panas dan tidak menjadi terlalu dingin, agar tidak
menjadi penyakit baru. Yang dituntut adalah jalan tengah.
Jika engkau ingin
melihat jalan tengah ini, lihatlah kepada dirimu sendiri. Jika menumpuk
harta dan mempertahankannya lebih engkau sukai dan lebih mudah daripada
mengeluarkannya sekalipun kepada orang yang berhak, maka ketahuilah bahwa
yang ada pada dirimu adalah sifat kikir. Maka obatilah jiwamu dengan
mengeluarkan harta itu. Jika mengeluarkan harta itu kepada orang, yang
lebih engkau sukai, maka tahanlah sedikit harta itu, karena yang ada pada
dirimu adalah pemborosan. Janganlah engkau lebih condong untuk
mengeluarkan harta atau menahannya. Buatlah harta itu mengalir seperti air
di sisimu. Engkau tidak menuntut air itu untuk berhenti bukan untuk suatu
keperluan, atau mengalirkannya secara deras untuk orang yang memerlukannya.
Setiap hari yang bisa seperti itu dalam keadaan selamat.
Iakan mendatangi Allah
Seseorang harus
terbebas dari segala akhlak (jelek), agar dia tidak mempunyai hubungan
dengan sesuatu pun dari keduniaan, agar jiwa dapat meninggalkan dunia
dalam keadaan memutuskan hubungan dengannya, tidak menoleh kepadanya dan
tidak mengharapkannya. Pada saat itu dia akan kembali kepada Rabb-nya
sebagaimana kembalinya jiwa yang muthma’inah.
Karena jalan tengah
yang hakiki antara dua sisi itu cukup sulit dideteksi, bahkan lebih lembut
daripada sehelai rambut dan lebih tajam daripada pedang, maka tidak aneh
siapa yang bisa melewati jalan yang lurus ini di dunia, tentu akan bisa
melewati jalan ini pula di akherat. Karena sulitnya istiqomah, maka hamba
diperintahkan- membaca, “Ihdinash-shirathal-mustaqim” beberapa kali setiap
hari. Siapa yang tidak sanggup istiqamah, hendaklah dia berusaha mendekati
istiqamah, karena keselamatan itu hanya dengan amal shalih. Sementara itu,
amal yang shalih tidak keluar kecuali dari akhlak yang baik. Maka
hendaklah setiap hamba mencari sifat dan akhlaknya sendiri, hendaklah
mengobati satu persatu dan hendaklah bersabar dalam masalah ini (karena
dia akan mendapatkan keadaan yang enak seperti halnya anak kecil yang
tadinya enggan disapih, tapi lama-kelamaan dia merasa enaknya di sapih.
Bahkan andaikan dia ditawari untuk menyusu lagi, tentu dia akan menolaknya).
Siapa yang menyadari umur yang pendek jika dibanding dengan kehidupan
akherat yang panjang, maka dia akan berani menanggung beratnya perjalanan
selama beberapa hari, untuk mendapatkan menghendaki kebaikan paI
kenikmatan yang abadi. Ketahuilah
bahwa bila Allahda seorang hamba, maka dia membuatnya tahu aib dirinya.
Siapa yang mempunyai mata hati, dia tidak akan takut terhadap aib dirinya.
Jika dia tahu aib dirinya, memungkinkan baginya untuk mengobatinya. Tetapi
mayoritas manusia tidak mau tahu aib dirinya sendiri. Kuman di seberang
lautan tampak, gajah di pelupuk mata tidak tampak. Kotoran di mata
temannya tampak, batang pohon di depan matanya tidak tampak.
Siapa yang ingin
mengetahui aib diri sendiri, maka ada empat jalan yang bisa ditempuh:
1. Menghadap seorang
syaikh yang bisa mengetahui aib jiwa, sehingga dia bisa mengenali aibnya
dan sekaligus mengobatinya. Yang seperti ini
seringkali terjadi, dan cukup banyak dokter yang menanganinya.
2. Mencari teman
karib yang jujur, dapat dipercaya dan bagus agamanya. Dia bisa menjadikan
teman karib itu sebagai pendampingnya, agar memberinya peringatan dari
akhlak atau perbuatannya yang kurang baik. Amirul Mukminin Umar bin
pernah berkata, “Semoga Allah merahmati seseorang yang mautAl-Khaththab
menunjukkan aib kami kepada kami.”
Suatu kali dia
bertanya kepada Salman menjawab, “Aku mendengarttentang
aib yang pernah dilakukannya. Maka Salman engkau pernah mengumpulkan dua
jenis sayur di meja makanmu dan engkau mengenakan dua macam pakaian, satu
untuk siang hari dan satu lagi untuk malam hari.”
berkata, “Apakah ada
selain itu?” “Tidak”, jawab Salmant
Umar “Kalau dua hal itu aku sudah
tidak melakukannya lagi,” jawab Umar bin , “Apakah akut
juga pernah bertanya kepada
Hudzaifaht.
Umar t
Al-Khaththab termasuk orang-orang munafik?”
dia perlu bertanya seperti itu, sebab siapa yang kedudukannya semakin
tinggi, maka tuduhan terhadap dirinya juga semakin gencar. Hanya saja di
zaman sekarang jarang ada teman karib yang jujur dengan memiliki sifat
seperti ini. Sedikit sekali teman yang tidak mencari muka atau tidak
dengki.
Orang-orang salaf
sangat suka jika ada seseorang yang menunjukkan aib mereka. Sementara kita
pada zaman sekarang justru marah besar jika ada seseorang yang menunjukkan
aib kita. Hal ini menunjukkan lemahnya iman. Sebab akhlak yang buruk itu
seperti kalajengking. Jika ada seseorang yang memperingatkan bahwa ada di
dalam baju salah seorang di antara kita ada kalajengking, maka secepat itu
pula kita kan bertindak untuk membunuh kalajengking tersebut. Sementara
akhlak yang hina lebih berbahaya dari kalajengking, bagi orang yang tidak
menyadarinya.
3. Mengambil manfaat
tentang aib dirinya dari penuturan musuhnya. Sebab mata yang penuh
kebencian itu tentu akan memancarkan keburukan. Manfaat yang bisa diambil
seseorang dari musuh, bisa mengingatkan aib dirinya. Hal ini lebih
bermanfaat baginya daripada teman karib yang mencari muka dan menutup
aibnya.
4. Bergaul dengan
manusia. Selagi dia melihat sesuatu yang tercela pada diri mereka, maka
dia segera menjauhinya.
Dikutip dari: Al-Imam Asy-syeikh Ahmad bin Abdurrahman bin Qudamah Al-Maqdisy,
“Muhtashor Minhajul Qoshidin, Edisi Indonesia: Minhajul Qashidhin Jalan
Orang-orang yang Mendapat Petunjuk”, penerjemah: Kathur Suhardi, Pustaka
Al-Kautsar, Jakarta Timur, 1997, hal. 193-195.