|

BAGIAN 10
URGENSI TAUHID
-
Sesungguhnya Allah
menciptakan segenap alam agar mereka menyembah kepadaNya. Mengutus para
rasul untuk menyeru semua manusia agar mengesakanNya. Al-Qur'anul Karim
dalam ba-nyak suratnya menekankan tentang arti pentingnya aqidah tauhid.
Menjelaskan bahaya syirik atas pribadi dan jama'ah. Dan syirik
meru-pakan penyebab kehancuran di dunia serta keabadian di dalam Neraka.
-
Semua para rasul
memulai dakwah (ajakan)nya kepada tau-hid. Hal ini merupakan perintah
Allah yang harus mereka sampaikan kepada umat manusia. Allah
I
berfirman:
"Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu melainkan
Kami wahyukan kepadanya, 'Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak)
melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku'." (Al-Anbiyaa':
25)
Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Salam tinggal di kota Makkah selama
tiga belas tahun. Selama itu, beliau mengajak kaumnya untuk mengesakan
Allah, me-mohon kepadaNya semata, tidak kepada yang lain. Di antara
wahyu yang diturunkan kepada beliau saat itu adalah:
"Katakanlah, 'Sesungguhnya aku hanya menyembah Tuhanku dan aku tidak
mempersekutukan sesuatu pun denganNya' (Al-Jin: 20)
Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Salam mendidik para pengikutnya kepada
tauhid sejak kecil. Kepada anak pamannya, Abdullah bin Abbas, beliau
bersabda,
"Bila kamu meminta, mintalah kepada Allah dan bila kamu me-mohon
pertolongan maka mohonlah pertolongan kepada Allah." (HR. At-Tirmidzi,
ia berkata hadits hasan shahih)
Tauhid inilah yang di atasnya didirikan hakikat ajaran Islam. Dan Allah
tidak menerima seseorang yang mempersekutukanNya.
-
Rasulullah Shalallahu
Alaihi Wa Salam mendidik para sahabatnya agar memulai dak-wah kepada
umat manusia dengan tauhid. Ketika mengutus Mu'adz ke Yaman sebagai da'i,
beliau bersabda:
"Hendaknya yang pertama kali kamu serukan mereka adalah bersaksi, 'Sesungguhnya
tidak ada Tuhan (yang berhak disem-bah) kecuali Allah,' Dalam riwayat
lain disebutkan, 'Agar mere-ka mengesakan Allah'." (Muttafaq 'alaih)
-
Sesungguhnya tauhid
tercermin dalam kesaksian bahwa ti-dak ada Tuhan (yang berhak disembah)
selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. Maknanya, tidak ada yang
berhak disembah selain Allah dan tidak ada ibadah yang benar kecuali apa
yang di bawa oleh Rasulullah r.
Kalimat syahadat ini bisa memasukkan orang kafir ke dalam agama Islam,
karena ia adalah kunci Surga. Orang yang mengikrarkannya akan masuk
Surga selama ia tidak dirusak dengan sesuatu yang bisa membatalkannya,
misalnya syirik atau kalimat kufur.
-
Orang-orang kafir
Quraisy pernah menawarkan kepada Ra-sulullah
r
kekuasaan, harta benda, isteri dan hal lain dari kesenangan dunia,
tetapi dengan syarat beliau meninggalkan dakwah kepada tauhid dan tak
lagi menyerang berhala-berhala. Rasulullah tidak me-nerima semua tawaran
itu dan tetap terus melanjutkan dakwahnya. Maka tak mengherankan, dengan
sikap tegas itu, beliau bersama sege-nap sahabatnya menghadapi banyak
gangguan dan siksaan dalam per-juangan dakwah, sampai datang pertolongan
Allah dengan keme-nangan dakwah tauhid. Setelah berlalu masa tiga belas
tahun, kota Makkah ditaklukkan, berhala-berhala dihancurkan. Ketika
itulah beli-au membaca ayat:
"Dan katakanlah yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap.
Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap." (Al-Israa':
81)
-
Tauhid adalah tugas
setiap muslim dalam hidupnya. Seorang muslim memulai hidupnya dengan
tauhid. Meninggalkan hidup ini pula dengan tauhid. Tugasnya di dalam
hidup adalah berdakwah dan menegakkan tauhid. Tauhid mempersatukan
orang-orang beriman, menghimpun mereka dalam satu wadah kalimat tauhid.
Kita memo-hon kepada Allah, semoga menjadikan kalimat tauhid sebagai
akhir dari ucapan kita di dunia, serta mempersatukan umat Islam dalam
satu wadah kalimat tauhid. Amin.
A. KEUTAMAAN TAUHID
-
Allah
Subhanahu Wa Ta'ala
berfirman:
"Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka
dengan kezhaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat
keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk."
(Al-An'am: 82)
Abdullah bin Mas'ud meriwayatkan, "Ketika ayat ini turun, banyak umat
Islam yang merasa sedih dan berat. Mereka berkata siapa di antara kita
yang tidak berlaku zhalim kepada dirinya sendiri? Lalu Rasulullah Shalallahu
Alaihi Wa Salam menjawab:
"Yang dimaksud bukan (kezhaliman) itu, tetapi syirik. Belumkah kalian
mendengar nasihat Luqman kepada puteranya, "Wahai anakku, janganlah kamu
mempersekutukan Allah. Sesungguhnya mempersekutukan Allah (syirik)
benar-benar suatu kezhaliman yang besar" (Luqman: 13) (Mutafaq Alaih)
Ayat ini memberi kabar gembira kepada orang-orang beriman yang
mengesakan Allah. Orang-orang yang tidak mencampur adukkan antara
keimanan dengan syirik. Serta menjauhi segala bentuk per-buatan syirik.
Sungguh mereka akan mendapatkan keamanan yang sempurna dari siksaan
Allah di akhirat. Mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk di
dunia.
-
Rasulullah Shalallahu
Alaihi Wa Salam bersabda:
"Iman memiliki lebih dari enam puluh cabang. Cabang yang paling utama
adalah 'Laa Ilaaha Illallah'dan cabang paling rendah adalah
menyingkirkan kotoran dari jalan." (HR. Muslim)
B. TAUHID PENGANTAR BAHAGIA DAN PELEBUR DOSA
Dalam kitab
Dalilul Muslim fil I'tiqaadi wat Tathhiir karya Syaikh Abdullah
Khayyath dijelaskan, "Dengan kemanusiaan dan ke-tidakmaksumannya, setiap
manusia berkemungkinan terpeleset, terje-rumus dalam maksiat kepada
Allah."
Jika dia adalah
seorang ahli tauhid yang murni dari kotoran-kotoran syirik maka tauhidnya
kepada Allah, serta ikhlasnya dalam mengucapkan "Laa ilaaha illallah"
menjadi penyebab utama bagi kebahagiaan dirinya, serta menjadi
penyebab bagi penghapusan dosa-dosa dan kejahatannya. Sebagaimana
dijelaskan dalam sabda Rasulullah :
"Barangsiapa
bersaksi bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Allah semata,
tiada sekutu bagiNya, dan Muhammad adalah hamba dan utusanNya, dan
kalimatNya yang disampaikanNya kepada Maryam serta ruh daripadaNya, dan (bersaksi
pula bahwa) Surga adalah benar adanya dan Neraka pun benar adanya maka
Allah pasti memasukkannya ke dalam Surga, apapun amal yang diperbuatnya."
(HR. Al-Bukhari
dan Muslim)
Maksudnya, segenap
persaksian yang dilakukan oleh seorang muslim sebagaimana terkandung dalam
hadits di atas mewajibkan dirinya masuk Surga, tempat segala kenikmatan.
Sekalipun dalam sebagian amal perbuatannya terdapat dosa dan maksiat. Hal
ini sebagaimana ditegaskan dalam hadits qudsi, Allah
I
berfirman:
"Hai anak Adam,
seandainya engkau datang kepadaKu dengan dosa sepenuh bumi, sedangkan
engkau ketika menemuiKu dalam keadaan tidak menyekutukanKu sedikitpun,
niscaya Aku berikan kepadamu ampunan sepenuh bumi pula."
(HR. At-Tirmidzi dan
Adh-Dhayya', hadits hasan)
Maknanya,
seandainya engkau datang kepadaKu dengan dosa dan maksiat yang banyaknya
hampir sepenuh bumi, tetapi engkau meninggal dalam keadaan bertauhid,
niscaya aku ampuni segala dosa-dosamu itu.
Dalam hadits lain
disebutkan:
"Barangsiapa meninggal dunia (dalam keadaan) tidak berbuat syirik
kepada Allah sedikit pun, niscaya akan masuk Surga. Dan barangsiapa
meninggal dunia (dalam keadaan) berbuat syirik kepada Allah, niscaya akan
masuk Neraka." (HR. Muslim)
Hadits-hadits di
atas menegaskan tentang keutamaan tauhid. Tauhid merupakan faktor
terpenting bagi kebahagiaan seorang hamba. Tauhid juga merupakan sarana
yang paling agung untuk melebur dosa-dosa dan maksiat.
C. MANFAAT TAUHID
Jika tauhid yang
murni terealisasi dalam hidup seseorang, baik secara pribadi maupun
jama'ah, niscaya akan menghasilkan buah yang amat manis. Di antara buah
yang didapat adalah:
-
Memerdekakan
manusia dari perbudakan serta tunduk kepada selain Allah, baik
benda-benda atau makhluk lainnya:
Semua makhluk adalah ciptaan Allah. Mereka tidak kuasa untuk menciptakan,
bahkan keberadaan mereka karena diciptakan. Mereka tidak bisa memberi
manfaat atau bahaya kepada dirinya sendiri. Tidak mampu mematikan,
menghidupkan atau membangkitkan.
Tauhid memerdekakan manusia dari segala perbudakan dan penghambaan
kecuali kepada Tuhan yang menciptakan dan membuat dirinya dalam bentuk
yang sempurna. Memerdekakan hati dari tun-duk, menyerah dan menghinakan
diri. Memerdekakan hidup dari ke-kuasaan para Fir'aun, pendeta dan dukun
yang menuhankan diri atas hamba-hamba Allah.
Karena itu, para pembesar kaum musyrikin dan thaghut-thaghut
jahiliyah menentang keras dakwah para nabi, khususnya dakwah Rasulullah
Shalallahu
Alaihi Wa Salam
.
Sebab mereka mengetahui makna laa ilaaha illallah sebagai suatu
permakluman umum bagi kemerdekaan manusia. Ia akan menggulingkan para
penguasa yang zhalim dan angkuh dari singgasana dustanya, serta
meninggikan derajat orang-orang beriman yang tidak bersujud kecuali
kepada Tuhan semesta alam.
-
Membentuk
kepribadian yang kokoh:
Tauhid membantu dalam pembentukan kepribadian yang kokoh. Ia menjadikan
hidup dan pengalaman seorang ahli tauhid begitu isti-mewa. Arah hidupnya
jelas, tidak mempercayai Tuhan kecuali hanya kepada Allah. KepadaNya ia
menghadap, baik dalam kesendirian atau ditengah keramaian orang. Ia
berdo'a kepadaNya dalam keadaan sempit atau lapang.
Berbeda dengan seorang musyrik yang hatinya terbagi-bagi untuk
tuhan-tuhan dan sesembahan yang banyak. Suatu saat ia menghadap dan
menyembah kepada orang hidup, pada saat lain ia menghadap kepada orang
yang mati.
Sehubungan dengan ini, Nabi Yusuf Alaihissalam berkata:
"Hai kedua penghuni penjara, manakah yang lebih baik tuhan-tuhan yang
bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Mahaesa lagi Mahaperkasa?" (Yusuf:
39)
Orang mukmin menyembah satu Tuhan. Ia mengetahui apa yang membuatNya
ridha dan murka. Ia akan melakukan apa yang membu-atNya ridha, sehingga
hatinya tenteram. Adapun orang musyrik, ia menyembah tuhan-tuhan yang
banyak. Tuhan ini menginginkannya ke kanan, sedang tuhan lainnya
menginginkannya ke kiri. Ia terombang-ambing di antara tuhan-tuhan itu,
tidak memiliki prinsip dan kete-tapan.
-
Tauhid sumber
keamanan manusia:
Sebab tauhid memenuhi hati para ahlinya dengan keamanan dan ketenangan.
Tidak ada rasa takut kecuali kepada Allah. Tauhid menutup rapat
celah-celah kekhawatiran terhadap rizki, jiwa dan keluarga. Ketakutan
terhadap manusia, jin, kematian dan lainnya menjadi sirna. Seorang
mukmin yang mengesakan Allah hanya takut kepada satu, yaitu Allah.
Karena itu, ia merasa aman ketika manusia ketakutan, serta merasa tenang
ketika mereka kalut.
Hal itu diisyaratkan oleh Al-Qur'an dalam firmanNya:
"Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka
dengan kezhaliman (syirik) mereka itulah orang-orang yang mendapat
keamanan dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk." (Al-An'am:
82)
Keamaan ini bersumber dari dalam jiwa, bukan oleh penjaga-penjaga polisi
atau pihak keamanan lainnya. Dan keamanan yang dimaksud adalah keamanan
dunia. Adapun keamanan akhirat maka lebih besar dan lebih abadi mereka
rasakan.
Yang demikian itu mereka peroleh, sebab mereka mengesakan Allah,
mengikhlaskan ibadah hanya untuk Allah dan tidak mencam-puradukkan
tauhid mereka dengan syirik, karena mereka mengetahui, syirik adalah
kazhaliman yang besar.
-
Tauhid sumber
kekuatan jiwa:
Tauhid memberikan kekuatan jiwa kepada pemiliknya, karena jiwanya penuh
harap kepada Allah, percaya dan tawakkal kepadaNya, ridha atas qadar
(ketentuan)Nya, sabar atas musibahNya, serta sama sekali tak mengharap
sesuatu kepada makhluk. Ia hanya menghadap dan meminta kepadaNya.
Jiwanya kokoh seperti gunung. Bila datang musibah ia segera mengharap
kepada Allah agar dibebaskan darinya. Ia tidak meminta kepada
orang-orang mati. Syi'ar dan semboyannya adalah sabda Rasulullah
Shalallahu Alaihi
Wa Salam
:
"Bila kamu meminta maka mintalah kepada Allah. Dan bila kamu memohon
pertolongan maka mohonlah pertolongan kepada Allah." (HR. At-Tirmidzi,
ia berkata hadits hasan shahih)
Dan firman Allah
Shalallahu Alaihi
Wa Salam
:
"Jika Allah menimpakan kemudharatan kepadamu maka tidak ada yang
menghilangkannya melainkan Dia sendiri." (Al-An'am: 17)
-
Tauhid dasar persaudaraan dan persamaan:
Tauhid tidak membolehkan pengikutnya mengambil tuhan-tuhan selain Allah
di antara sesama mereka. Sifat ketuhanan hanya milik Allah satu-satunya
dan semua manusia wajib beribadah kepadaNya. Segenap manusia adalah
hamba Allah, dan yang paling mulia di antara mereka adalah Muhammad
r.
D. MUSUH-MUSUH TAUHID
Allah
Subhanahu Wa Ta'ala
berfirman:
"Dan demikianlah Kami
jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh. Yaitu setan-setan (dari jenis)
manusia dan (dari jenis) jin. Sebagian mereka membisikkan kepada sebagian
yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia)."
(Al-An'am:
112)
Di antara hikmah
dan kebijaksanaan Allah adalah menjadikan bagi para nabi dan du'at
tauhid musuh-musuh dari jenis setan-setan jin yang membisikkan kesesatan,
kejahatan dan kebatilan kepada setan-setan dari jenis manusia. Hal itu
untuk menyesatkan dan menghalangi mereka dari tauhid yang merupakan dakwah
utama dan pertama para nabi kepada kaumnya.
Sebab tauhid
merupakan asas penting yang di atasnya dibangun dakwah Islam. Anehnya,
sebagian orang berasumsi, dakwah kepada tauhid hanya akan memecah belah
umat. Padahal justru sebaliknya, tauhid akan mempersatukan umat. Sungguh
namanya saja (tauhid berarti mengesakan, mempersatukan) menunjukkan hal
itu.
Adapun orang-orang
musyrik yang mengakui tauhid rububiyah, dan bahwa Allah pencipta
mereka, mereka mengingkari tauhid uluhiyah dalam berdo'a kepada
Allah semata, dengan tidak mau meninggalkan berdo'a kepada wali-wali
mereka. Kepada Rasulullah r
yang mengajak mereka mengesakan Allah dalam ibadah dan do'a, mereka
berkata:
"Mengapa dia
menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan Yang Satu saja? Sesungguhnya ini
benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan."
(Shaad: 5)
Tentang umat-umat
terdahulu Allah berfirman:
"Demikianlah tidak
seorang rasul pun yang datang kepada orang-orang yang sebelum mereka,
melainkan mereka mengata-kan, 'Dia itu adalah seorang tukang sihir atau
orang gila.' Apakah mereka saling berpesan tentang apa yang dikatakan itu.
Sebenarnya mereka adalah kaum yang melampaui batas,"
(Adz-Dzaariyaat:
52-53)
Di antara sifat
kaum musyrikin adalah jika mereka mendengar seruan kepada Allah semata,
hati mereka menjadi kesal dan melarikan diri, mereka kufur dan
mengingkarinya. Tetapi jika mendengar syirik dan seruan kepada selain
Allah, mereka senang dan berseri-seri. Allah menyifati orang-orang musyrik
itu dengan firmanNya:
"Dan apabila hanya
nama Allah saja yang disebut, kesallah hati orang-orang yang tidak beriman
kepada kehidupan akhirat, dan apabila nama sesembahan selain Allah yang
disebut, tiba-tiba mereka bergirang hati."
(Az-Zumar: 45)
Allah
Subhanahu Wa Ta'ala
berfirman:
"Yang demikian itu
adalah karena kamu kafir apabila Allah saja yang disembah. Dan kamu
percaya apabila Allah diperseku-tukan. Maka putusan (sekarang ini) adalah
pada Allah Yang Mahatinggi lagi Mahabesar,"
(Ghaafir: 12)
Ayat-ayat di atas
meski ditujukan kepada orang-orang kafir, teta-pi bisa juga berlaku bagi
setiap orang yang memiliki sifat seperti orang-orang kafir. Misalnya
mereka yang mendakwahkan dirinya sebagai orang Islam, tetapi memerangi dan
memusuhi seruan tauhid, membuat fitnah dusta kepada mereka, bahkan memberi
mereka julukan-julukan yang buruk. Hal itu dimaksudkan untuk menghalangi
manusia menerima dakwah mereka, serta menjauhkan manusia dari tauhid yang
karena itu Allah mengutus para rasul.
Termasuk dalam
golongan ini adalah orang-orang yang jika men-dengar do'a kepada Allah
hatinya tidak khusyu'. Tetapi jika men-dengar do'a kepada selain Allah,
seperti meminta pertolongan kepada rasul atau para wali, hati mereka
menjadi khusyu' dan senang. Sung-guh alangkah buruk apa yang mereka
kerjakan.
E. SIKAP ULAMA TERHADAP TAUHID
Ulama adalah
pewaris para nabi, Dan menurut keterangan Al-Qur'an, yang pertama kali
diserukan oleh para nabi adalah tauhid, sebagaimana disebutkan Allah dalam
firmanNya:
"Dan sesungguhnya kami
telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), 'Sembahlah
Allah (saja) dan jauhilah thaghut,"
(An-Nahl: 36)
Karena itu wajib
bagi setiap ulama untuk memulai dakwahnya sebagaimana para rasul memulai.
Yakni pertama kali menyeru manu-sia kepada mengesakan Allah dalam segala
bentuk peribadatan. Terutama dalam hal do'a, sebagaimana disabdakan
Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Salam :
"Do'a adalah ibadah".
(HR. At-Tirmidzi, ia berkata hadits ha-san shahih)
Saat ini
kebanyakan umat Islam terjerumus ke dalam perbuatan syirik dan berdo'a (memohon)
kepada selain Allah. Hal inilah yang menyebabkan kesengsaraan mereka dan
umat-umat terdahulu. Allah membinasakan umat-umat terdahulu karena mereka
berdo'a dan ber-ibadah kepada selain Allah, seperti kepada para wali,
orang-orang sha-lih dan sebagainya.
Adapun sikap ulama
terhadap tauhid dan dalam memerangi syi-rik, terdapat beberapa tingkatan:
-
Tingkatan paling
utama:
Mereka adalah ulama yang memahami tauhid, memahami arti penting tauhid
dan macam-macamnya. Mereka mengetahui syirik dan macam-macamnya.
Selanjutnya para ulama itu melaksanakan kewa-jiban mereka: menjelaskan
tentang tauhid dan syirik kepada manusia dengan menggunakan hujjah (dalil)
dari Al-Qur'anul Karim dan hadits-hadits shahih . Para ulama
tersebut, tak jarang –sebagaimana para nabi– dituduh dengan berbagai
macam tuduhan bohong, tetapi mereka sabar dan tabah. Syi'ar dan semboyan
mereka adalah firman Allah:
"Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan jauhilah mereka
dengan cara yang baik." (Al-Muzammil: 10)
Dahulu kala, Luqmanul Hakim mewasiatkan kepada putranya, seperti
dituturkan dalam firman Allah:
"Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) menger-jakan
yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan
bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian
itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)." (Luqman: 17)
-
Tingkatan kedua:
Mereka adalah ulama yang meremehkan dakwah kepada tauhid yang menjadi
dasar agama Islam. Mereka merasa cukup mengajak manusia mengerjakan
shalat, memberikan penjelasan hukum dan ber-jihad, tanpa berusaha
meluruskan aqidah umat Islam. Seakan mereka belum mendengar firman Allah
Subhanahu Wa Ta'ala:
"Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari
mereka amalan yang telah mereka kerjakan." (Al-An'am: 88)
Seandainya mereka dahulu mengajak kepada tauhid sebelum mendakwahkan
kepada yang lain, sebagaimana yang dilakukan oleh para rasul, tentu
dakwah mereka akan berhasil dan akan mendapat pertolongan dari Allah,
sebagaimana Allah telah memberikan perto-longan kepada para rasul dan
nabiNya. Allah berfirman:
"Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara
kamu dan mengerjakan amal-amal shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan
menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan
orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan
meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhaiNya untuk mereka, dan
Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada
dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahKu dengan
tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa (tetap)
kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik."
(An-Nuur: 55)
Karena itu, syarat paling asasi untuk mendapatkan pertolongan Allah
adalah tauhid dan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun.
-
Tingkatan ketiga:
Mereka adalah ulama dan du'at yang meninggalkan dakwah ke-pada
tauhid dan memerangi syirik, karena takut ancaman manusia, atau takut
kehilangan pekerjaan dan kedudukan mereka. Karena itu menyembunyikan
ilmu yang diperintahkan Allah agar mereka sampai-kan kepada manusia.
Bagi mereka adalah firman Allah:
"Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami
turunkan berupa keterangan (yang jelas) dan petun-juk, setelah Kami
menerangkannya kepada manusia dalam Al-Kitab, mereka itu dilaknati Allah
dan dilaknati (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat melaknati."
(Al-Baqarah: 159)
Semestinya para du'at adalah sebagaimana difirmankan Allah:
"(Yaitu) orang-orang yang menyampaikan risalah-risalah Allah, mereka
takut kepadaNya dan mereka tiada merasa takut kepada seorang (pun)
selain kepada Allah," (Al-Ahzab: 39)
Dalam kaitan ini Rasulullah
Shalallahu Alaihi
Wa Salam
bersabda:
"Barangsiapa menyembunyikan ilmu, niscaya Allah akan menge-kangnya
dengan kekang dari api Neraka." (HR. Ahmad, hadits shahih)
-
Tingkatan keempat:
Mereka adalah golongan ulama dan para syaikh yang menentang dakwah
kepada tauhid dan menentang berdo'a semata-mata kepada Allah. Mereka
menentang seruan kepada peniadaan do'a terhadap selain Allah, dari para
nabi, wali dan orang-orang mati. Sebab mereka membolehkan yang demikian.
Mereka menyelewengkan ayat-ayat ancaman berdo'a kepada se-lain Allah
hanya untuk orang-orang musyrik. Mereka beranggapan, tidak ada satu pun
umat Islam yang tergolong musyrik. Seakan-akan mereka belum mendengar
firman Allah:
"Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka
dengan kezhaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat
keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk."
(Al-An'am: 82)
Dan kezhaliman di sini artinya syirik, dengan dalil firman Allah:
"Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezhaliman
yang besar." (Luqman: 13)
Menurut ayat ini, seorang muslim bisa saja terjerumus kepada perbuatan
syirik. Hal yang kini kenyataannya banyak terjadi di negara-negara
Islam.
Kepada orang-orang yang membolehkan berdo'a kepada selain Allah,
mengubur mayit di dalam masjid, thawaf mengelilingi kubur, nadzar untuk
para wali dan hal-hal lain dari perbuatan bid'ah dan mungkar, kepada
mereka Rasulullah
r
memperingatkan:
"Sesungguhnya aku sangat takutkan atas umatku (adanya)
pemimpin-pemimpin yang menyesatkan." (Hadits shahih, riwayat At-Tirmidzi)
Salah seorang Syaikh Universitas Al-Azhar terdahulu, pernah ditanya
tentang bolehnya shalat atau memohon ke kuburan, kemudian syaikh
tersebut berkata, "Mengapa tidak dibolehkan shalat (memohon) ke kubur,
padahal Rasulullah
r
di kubur di dalam masjid, dan orang-orang shalat (memohon) ke kuburannya?"
Syaikh Al-Azhar menjawab: "Harus diingat, bahwa Rasulullah
Shalallahu Alaihi
Wa Salam
tidak dikubur di dalam masjidnya, tetapi beliau dikubur di rumah Aisyah.
Dan Rasulullah melarang shalat (memohon) ke kuburan. Dan sebagian dari
do'a Rasulullah
Shalallahu Alaihi
Wa Salam
adalah:
"Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari ilmu yang tidak
bermanfaat." (HR. Muslim)
Maksudnya, yang tidak aku beritahukan kepada orang lain, dan yang tidak
aku amalkan, serta yang tidak menggantikan akhlak-akhlakku yang buruk
menjadi baik. Demikian menurut keterangan Al-Manawi.
-
Tingkatan kelima:
Mereka adalah orang-orang yang mengambil ucapan-ucapan guru dan syaikh
mereka, dan menta'atinya meskipun dalam maksiat kepada Allah. Mereka
adalah orang-orang yang melanggar sabda Rasulullah :
"Tidak (boleh) ta'at (terhadap perintah) yang di dalamnya terda-pat
maksiat kepada Allah, sesungguhnya keta'atan itu hanyalah dalam
kebajikan." (HR. Al-Bukhari)
Pada hari Kiamat kelak, mereka akan menyesal atas keta'atan mereka itu,
hari yang tiada berguna lagi penyesalan. Allah meng-gambarkan siksaNya
terhadap orang-orang kafir dan mereka berjalan di atas jalan kufur,
dalam firmanNya:
"Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikkan dalam Neraka, mereka
berkata, 'Alangkah baiknya, andaikata kami ta'at kepada Allah dan ta'at
(pula) kepada Rasul.' Dan mereka berkata, 'Ya Tuhan kami, sesungguhnya
kami telah menta'ati pemimpin-pe-mimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu
mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar). Ya Tuhan kami,
timpakanlah kepada mereka adzab dua kali lipat dan kutuklah mereka
dengan kutukan yang besar." (Al-Ahzab: 66-68)
Ibnu Katsir dalam menafsirkan ayat ini berkata, "Kami mengikuti para
pemimpin dan pembesar dari para syaikh dan guru kami, dengan melanggar
keta'atan kepada para rasul. Kami mempercayai bahwa mereka memiliki
sesuatu, dan berada di atas sesuatu, tetapi kenyata-annya mereka
bukanlah apa-apa."
[ SELANJUTNYA ]
SUMBER
Website “Yayasan Al-Sofwa”
Jl. Raya Lenteng Agung Barat, No.35 Jagakarsa, Jakarta - Selatan (12610)
Telpon: (021)-788363-27 , Fax:(021)-788363-26
www.alsofwah.or.id ; E-mail: info@alsofwah.or.id
|