[DEPAN] [ HADITS ] [ TAUHID ] [ FIQIH ] [ MANHAJ ] [ AKHLAQ ] [ KISAH ] [ AKTUAL] [ ARSIP ]

 


Potensi No! Ancaman Yes!

(Tanggapan atas tulisan “JIL, Potensi atau Ancaman?)

 

Oleh: Al Ustadz Abduh Zulfidar Akaha, Lc*

Awal bulan September 2002, sebuah harian ibu kota memuat tulisan Dwi Henri Cahyono, berjudul “JIL, Potensi atau Ancaman?” yang secara ringkas, isinya menceritakan apa dan bagaimana Jaringan Islam Liberal (JIL) berikut kiprah mereka dalam upaya ‘membangun’ pemikiran Islam secara benar, tentu saja menurut persepsi mereka. Sebagai pembanding, tidak lupa Dwi menampilkan sejumlah kelompok Islam yang dianggap –oleh JIL sebagai– militan dan fundamentalis, lengkap dengan pemahaman berikut peran serta mereka dalam upaya menegakkan syariat Islam di bumi pertiwi. Namun sayangnya, Dwi tampak malu-malu kepada siapa dia harus berpihak. Sehingga tulisan yang semestinya bagus itu jadi terkesan hambar dan samar-samar. Pasalnya, Dwi menyerahkan seratus persen kesimpulannya kepada pembaca; apakah Jaringan Islam Liberal itu potensi ataukah ancaman? <baca selengkapnya>


Jalan Golongan Yang Selamat

 

Siapakah golongan yang selamat di dunia dan ekhirat? Berikut kami salinkan sifat-sifat golongan manusia yang selamat (menurut agama) sebagaimana yang ditulis oleh seorang Ulama Besar dari Tanah Suci Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu.

 

1. Golongan Yang Selamat ialah golongan yang setia mengikuti manhaj Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam hidupnya, serta manhaj para Shahabat sesudahnya.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

“Aku tinggalkan padamu dua perkara yang kalian tidak akan tersesat apabila (berpegang teguh) kepadanya, yaitu Kitabullah dan Sunnahku. Tidak akan bercerai berai sehingga keduanya menghantarku ke telaga (Surga).”(Dishahihkan Al-Albani dalam kitab Shahihul Jami’) <baca selengkapnya>


Enam Pokok Aliran Sesat Dalam Islam.

 

 Al-Imam Ibnul Jauzy Al-Baghdadi dengan bukunya yang masyhur berjudul Talbis Iblis dalam satu jilid tebal. Beliau menerangkan: "Sesungguhnya kita ahlus sunnah telah tahu adanya Islam sempalan dan pokok-pokok berbagai golongannya, dan sungguh setiap golongan dari mereka terpecah menjadi beberapa golongan.

Walaupun kita tidak mampu mengidentifikasi seluruh nama-nama golongan dan madzhab-madzhabnya, akan tetapi kita dapat melihat dengan jelas bahwa induk-induk golongan ini ialah:

<baca selengkapnya>


MAKNA SUNNAH DALAM AL-QUR'AN

Oleh: Al Ustadz Abduh Zulfidar Akaha, Lc

Adalah sangat mengada-ada dan dipaksakan jika orang-orang yang mengingkari Sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengatakan bahwa Sunnah itu tidak ada hanya dikarenakan tidak ada penyebutan kata “Sunnah Nabi” atau “Sunnah Rasul” di dalam Al-Qur`an. Sebab, tidak semua hal harus disebutkan secara letterledge (harfiyah) oleh Allah dalam Kitab-Nya, dan itu adalah hak prerogatif Allah yang tidak bisa diganggu gugat. Bagaimanapun juga, setiap bahasa mempunyai kaidah dan gramatikanya sendiri. Begitu pula dengan Bahasa Arab. Penggunaan kata ganti orang kedua dan ketiga serta penyebutan sesuatu dengan menggunakan kata yang lain adalah sesuatu yang sangat biasa. Bahkan dalam bahasa apa pun.<baca selengkapnya>


HADDADIYAH

 

Haddadiyah, yaitu bentuk lain peyusupan pemahaman dari kalangan yang berpandangan takfiriyah ke dalam kalangan Salafiyyin. Takfiriyah itu sendiri maknanya ialah pemahaman sesat yang cenderung mengkafirkan kaum Muslimin di luar komunitasnya hanya karena dosa-dosa yang dilakukannya. Sedangkan haddadiyah berpandangan bahwa seorang Muslim bila telah melakukan perbuatan bid’ah, maka dia dihukumi sebagai ahlul bid’ah dan keluar dari kedudukannya sebagai Ahlus Sunnah wal Jama'ah. Orang yang pertama kali mengkampanyekan pemikiran ini adalah Abu Abdillah Mahmud bin Muhammad Al-Haddad Al-Masri. Orang ini semula menampilkan diri sebagai thalibul ilmi yang amat tekun menuntut ilmu di majlisnya para Ulama’ seperti As-Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali dan lain-lainnya. Tetapi dia kemudian menampilkan pemikiran-pemikiran anehnya sebagaimana yang disebutkan diatas. <baca selengkapnya>

 


SIKAP KRITIS SYAIKH AL-IZZ BIN ABDISSALAM TERHADAP PENGUASA

Oleh: Al Ustadz Abduh Zulfidar Akaha

Pada masa akhir keruntuhan Khilafah Bani Abbasiyah, banyak para budak yang menjadi bebas dengan sendirinya dikarenakan tuan-tuannya yang meninggal atau melarikan diri. Di antara para budak tersebut, banyak yang berasal dari Turki atau biasa disebut sebagai “al-atrak,” yang artinya orang-orang Turki. Namun, yang menjadi masalah adalah, banyak di antara orang-orang Turki yang mantan budak ini yang menjadi pejabat pemerintahan di bawah kekuasaan Sultan Najmuddin Ayub di Mesir. Dan kebetulan ketika itu yang menjadi qadhi qudhah (semacam Ketua Mahkamah Agung – sekarang) di Mesir adalah Syaikh Al-Izz bin Abdissalam, yang terkenal dengan sebutan “sulthanul ulama” atau pemimpin para ulama. Beliau digelari demikian karena dikarenakan ketinggian ilmunya dan sikapnya yang sering mewakili para ulama pada zamannya, termasuk sikap kritis beliau terhadap penguasa. <baca selengkapnya>


BIOGRAFI: Syaikh Bakr Abu Zaid –Hafizhahullah-
Beliau adalah Bakr bin ‘Abdullah, Abu Zaid bin Muhammad bin ‘Abdullah bin Bakr bin ‘Utsman bin Yahya bin Ghaihab bin Muhammad. Silsilah ini berhenti hingga Bani Zaid teratas, yaitu Zaid bin Suwaid bin Zaid bin Suwaid bin Zaid bin Haram bin Suwaid bin Zaid, al-Qudlaa’i, dari kabilah Bani Zaid al-Qudlaa’iyyah yang tersohor di kawasan al-Wasym dan dataran tinggi Nejd. Di sanalah Syaikh Bakr Abu Zaid dilahirkan, yaitu pada tahun 1365 H. <baca selengkapnya>


 

Teguran (Tahzir) Syaikh DR. Bakr Abdullah Abu Zaid Pada Syaikh Robi

 

Setelah menulis buku yang penuh tuduhan dan caci maki terhadap Asy-Syahid Sayyid Quthub yang berjudul, “Adhwa` Islamiyyah ‘Ala ‘Aqidati Sayyid Quthb wa Fikrih,” Syaikh Robi’ bin Hadi bin Umair Al-Madkholi meminta Syaikh DR. Bakr bin Abdillah Abu Zaid (anggota Hay`ah Kibar Al-‘Ulama di Saudi dan anggota Al-Lajnah Ad-Da`imah lil Buhuts Al-‘Ilmiyyah wal Ifta`) untuk memberikan kata pengantar bagi buku beliau tersebut. Namun, di luar dugaan, sebagai seorang ulama besar yang bijak dan berpengetahuan luas, Syaikh Bakr Abu Zaid dengan halus menolak memberikan kata pengantarnya. <baca selengkapnya>

 

LAINNYA:

 

PELECEHAN SYAIKH ROBI TERHADAP SYAIKH DR. BAKR ABDULLAH ABU ZAID

Pelecehan Syaikh Robi Terhadap Hay’ah Kibarul Ulama

Syaikh Robi Bersikap Sombong dengan melecehkan ulama


Cita-Cita Islam dalam Membentuk Masyarakat Qurani
Oleh : (Farid Achmad Okbah)

 

Banyak tokoh Islam yang berbicara tentang cita-cita Islam, tetapi sering terbawa oleh situasi masanya. Padahal, harus dibedakan antara doktrin Islam dan konsepsi manusia. Pertama, doktrin Islam bersifat sakral dan pasti kebenarannya, karena datang dari Sang Maha Kuasa, sedangkan konsep manusia tidak bersifat mutlak, tetapi bersifat nisbi.

<baca selengkapnya>

 


Teladan Bisnis Rasulullah
Oleh : Muhammad Syafi'i Antonio

 

Hampir tak terasa sudah lebih dari satu minggu orang-orang memperingati Maulid Nabi besar Muhammad saw. Peristiwa bersejarah itu sudah berlalu seakan tidak ada hubungan sama sekali dengan perekonomian dan kinerja pembangunan kita.

Karena memang, menurut sebahagian orang, apa kaitan antara Rasul dengan ekonomi, bisnis, atau manajemen? Lebih dari itu ada yang beranggapan bahwa ajaran nabi Muhammad saw adalah sebagai faktor penghambat pembangunan ekonomi dan aktivitas bisnis modern.<baca selengkapnya>


ANTARA GHAIB dan KLENIK

Oleh: Al Ustadz Abduh Zulfidar Akaha, Lc

 

Dalam sejarah dunia perklenikan, Indonesia pernah mengalami masa-masa ‘keemasannya,’ yaitu pada zaman bangsa ini masih dikuasai oleh kerajaan-kerajaan yang terdapat hampir di seluruh pelosok tanah air. Ketika itu, banyak sekali orang-orang sakti mandraguna dengan berbagai ilmu kedigdayaan, ajian-ajian, dan senjata-senjata andalan yang dimiliki. <baca selengkapnya>


Ikrimah Bin Abu Jahal (Sahabat Nabi)

 

Abu Ishaw As-Ayabi'i meriwayatkan, ketika Rasulullah SAW berhasil menaklukkan kota Makkah, maka Ikrimah berkata: Aku tidak akan tinggal di tempat ini!" Setelah berkata demikian, dia pun pergi berlayar dan memerintahkan supaya isterinya membantunya. Akan tetapi isterinya berkata: "Hendak kemana kamu wahai pemimpin pemuda Quraisy?" Apakah kamu akan pergi kesuatu tempat yang tidak kamu ketahui?" Ikrimah pun melangkahkan kakinya tanpa sedikitpun memperhatikan perkataan isterinya. <baca selengkapnya>

 


Syeikh Aidh Abdullah Al-Qarni:

Takutlah pada Allah Wahai Rakyat Irak....

(Selasa, 5 Des 06 18:00 WIB)

Syaikh Aidh Abdullah Al-Qarni, namanya sudah lekat di hati penikmat buku Islam di tanah air. Ia adalah penulis buku best seller "Laa Tahzan." Selain dikenal aktif menulis buku-buku yang mendapat sambutan luas di berbagai negara dunia, Al-Qarni juga tokoh yang dikenal memiliki pandangan moderat. Ia mengikuti perkembangan dunia Islam dalam berbagai dinamikanya. Beberapa waktu lalu, wartawan majalah Al-Mujtama’ terbitan Kuwait, mewawancarainya tentang banyak masalah termasuk masalah krisis di Irak dan Palestina. Berikut petikannya: <baca selengkapnya>

 

 


ARTIKEL LAINNYA





 

salafysejati@yahoo.co.id